Di Semarang, kanal pernah menghubungkan pelabuhan langsung dengan pusat kota: setelah Kali Baroe dibuat pada 1872, kapal dapat berlayar ke pusat kota untuk menaikkan dan menurunkan barang. Pelabuhan Tanjung Emas berjarak sekitar lima kilometer dari Tugu Muda, yang berada di pusat Semarang. [2] Hubungan itu memperlihatkan bahwa dermaga bukan titik yang berdiri sendiri; jalur kapal dan barang turut menentukan bagaimana pelabuhan terhubung dengan ruang kota.
BANDAR99: Dermaga dan jalur yang membentuk kota
Dari pelabuhan lama menuju jalur baru
Pelabuhan Semarang telah berkembang sejak abad ke-16. Pelabuhan kunonya berada di Bukit Simongan, tetapi pasir dan endapan lumpur membuat sungai penghubung kota dengan pelabuhan tak lagi dapat dilayari, sementara dataran pasir di muara menghambat kapal. Pada 1868, sejumlah perusahaan dagang melakukan pengerukan; empat tahun kemudian, kanal Nieuwe Havenkanaal atau Kali Baroe dibangun untuk menghubungkan pelayaran dengan pusat kota. [2]
Perubahan jalur air itu berkaitan erat dengan perdagangan. Pada abad ke-19, pemerintah kolonial Belanda membangun Pelabuhan Tanjung Emas untuk mengekspor gula dan berbagai hasil pertanian dari pedalaman, menggantikan pelabuhan pra-kolonial yang mengalami pendangkalan. Setelah kanal baru dibangun, kapal uap dan kapal layar dari luar negeri berdatangan. Pada 1910, tercatat 985 kapal uap dan 38 kapal layar berlabuh di Semarang. [2]
Angka tersebut memberi gambaran tentang ramainya perjalanan kapal pada masa itu. Namun, hubungan pelabuhan dengan kota bukan hanya perkara kapal yang datang dan pergi: perdagangan dari pedalaman membutuhkan jalur menuju dermaga, sedangkan pelabuhan membutuhkan akses perairan yang dapat dilayari.
Ruang kerja di antara air dan darat
Fasilitas Tanjung Emas yang tercatat mencakup alur pelayaran, kolam pelabuhan, dermaga, gudang, terminal seluas 3.000 meter persegi, dan lapangan penumpukan. [2] Susunan ini membuat pelabuhan terbaca sebagai gabungan ruang air dan ruang darat: kapal bergerak melalui alur dan kolam, sementara barang ditangani di sekitar dermaga, gudang, dan lapangan penumpukan.
Kebutuhan ruang itu dapat berubah seiring arus barang dan batas kapasitas pelabuhan. Pada 1970–1983, arus barang di Pelabuhan Semarang tercatat meningkat rata-rata 10 persen per tahun. Kedalaman dan lebar petak atau kolam yang terbatas kemudian menjadi alasan pemerintah memutuskan pengembangan pelabuhan. [2] Dalam contoh ini, perdagangan ikut menuntut penyesuaian pada ruang perairan dan fasilitas di darat.
Pelabuhan dalam jaringan kota
Cilegon menunjukkan hubungan kota dan pelabuhan dari sudut lain. Kota ini terletak di tepi Selat Sunda, memiliki Pelabuhan Merak, Cigading, dan Ciwandan, serta terhubung dengan Jalan Tol Jakarta–Merak. [3] Rangkaian tersebut mengajak kita membaca kota pelabuhan bukan hanya dari dermaganya, tetapi juga dari letaknya terhadap jalur laut dan akses darat.
Dari kanal Semarang hingga posisi pelabuhan-pelabuhan di Cilegon, wajah kota terbentuk melalui hubungan antara perairan, fasilitas perdagangan, dan ruang darat yang menyokongnya. Dermaga menjadi bagian dari wajah kota justru karena aktivitasnya terhubung dengan ruang-ruang di sekitarnya.
Sumber
- [2] Wikipedia bahasa Indonesia — Pelabuhan Tanjung Emas. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=28426550&title=Pelabuhan_Tanjung_Emas (diakses 2026-10-02).
- [3] Wikipedia bahasa Indonesia — Kota Cilegon. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=30007283&title=Kota_Cilegon (diakses 2026-10-02).